Sirosis Hepatis

Standard

Oleh : NN          

     Definisi :

Sirosis hepatis adalah penyakit kronis yang menyebabkan destruksi sel dan fibrosis (jaringan parut) dari jaringan hepatic

Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan arstektur hati yang normal oleh lembar-lembar

Jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vascular normal. (prace and Wilson,2006)

 

     Klasifikasi :

  1. Morfologi:

a. Mikronoduler – Adanya septa tipis.

b. Makronoduler – Sirosis pasca necrotic.

c. Campuran sirosis mikro dan makro noduler.

  1. Fungsional:

a. Kegagalan hati (Keluhan lemah, BB Menurun Dll).

b. Hipertensi portal terjadi :

                         – Meningkatnya resistensi portal akibat fibrosis.

                         – Meningkatnya aliran portal akibat distorsi hati.

 

 

      Etiologi :

  1. Malnutrisi
  2. Alkoholisme
  3. kegagalan jantung yang menyebabkan bendungan vena hepatika
  4. virus hepatitis
  5. penyakit Wilson

merupakan kelainan autosomal resesif yang diturunkan dimana tembaga tertimbun di hepar dan ganglia basal ota

  1. zat toksit

 

  

 

ANATOMI HATI

 

¡  berat hati 1500 gram.

¡  Metabolisme hati menghasilkan panas 20 %.

¡  Mendapat peredaran darah dari Arteri hepatica dan Vena porta.

 

     Fungsi hati

–          Mensintesa sebagian besar protein plasma, metabolisme Asam amino, Lemak, KH, Alkohol, Obat-obatan dan membuat getah Empedu.

–          Menyimpan Vit B 12 untuk kebutuhan selama 1 sampai dengan 3  Tahun dan Vit A, D, E, K.

–          Menyimpan Trigliserida sebagai cadangan Energi

     Susunan Empedu :

Hati menghasilkan Empedu 1 Liter / hari. Volume ini menyusut 10 sampai dengan 20 % setelah dipekatkan di kandung empedu.

      Garam Empedu :

  • Asam – asam Empedu yaitu asam Kholat dan Kenodioksikolat disintesa dari kolesterol.
  • Sintesa terjadi pada sel hati dengan penggabungan Taurine            Garam Na.
  • 90 % Garam Empedu yang terkonjugasi diserap secara aktif di dalam Ileum dan selanjutnya di bawa ke hati.
  • 10 % Garam Empedu lolos ke usus besar, lalu dipecah oleh bakteri menjadi Tinja.

 

Patofisiologi

 

    Radang hati                                                                     Gejala Gastro Intestinal

 

           
           
 

 

 

 

    Necrosis hati              Nyeri               Nausea, Vomit            Disfungsi Instestinal

                                                                                                          – Flatulensi

                                                               Anoreksia                           – Konstipasi

                        

                                                               Penurunan BB

 

                                                               Kelemahan                Hypoglikemi

 

                                                              Penurunan       

                                                              Metabolisme ( KH, Lemak, Prot)

 

 

    Tek. Vena Portal:

–          Ascites                                                         Penurunan Metabolisme Bilirubin

–          Hidrothoraks                                                   – Bilirubinemia (Icterus)

–          Splenomegali        Leukopeni                         – Brkrangna Empedu Pd

                                          Thrombositopeni                 sal cerna Shgg Feses mjd pucat

                                          Anemia                              – Meningkatnya Birobilinogen,

      –     Edema                                                                Shgg urine mjd gelap.

 

 
   

 

 

 

     Tek Vena Meningkat :                                        Penurunan Metabolisme hormon :

      –  Hemostasisvasculer                                          – Impotensi

         (Dilatasi vena kepala,                                       – Ginekomasti

          Tubuh bag atas/bawah)                                    – Gangguan Haid

      –  Varises esophagus                                            – Hilangnya rambut

      –  Haemoroid                                                        – Spider nevi

      –  Edema                                                               – Eritema palmaris

–  Edema

 

 

Kegagalan hati total                                         Enchephalopati hepatica

 

                                                                               Koma hepatikum

 

 

                                                                                   Kematian

Manifestasi klinis

 

  • Disebakan oleh satu/ lebuh macam kegagalan :
  • Ø Keluhan subyektif :
    1. Kegagalan parenchim hati
    2. Hipertensi portal
    3. Enchelopalophaty
    4. Ascites

–                      Tiad ada nafsu makan, mual, perut terasa tidak enak, cepat lelah.

–                   Keluhan awal : Kembung

–                   Tahap lanjut : Icterus dan urine gelap.

  • Keluhan Obyektif :
  1. Hati – Kadang terasa keras/ tumpul
  2. Limpa – Pembesaran pada limpa
  3. Perut – Sirkulasi kolateral pada dinding perut dan ascites.
  4. Manifestasi ekstra abdominal :

–          Spider nervi pada bagian atas

–          Eritema palmaris

–          Ginekomasti dan atropi testis

–          Haemoroid

–          Mimisan

 

Pemeriksaan fisik

1)      Pemeriksaan kepala

2)      Pemeriksaan mata

3)      Pemeriksaan telinga

4)      Pemeriksaan hidung

5)      Pemeriksaan mulut dan faring

6)      Pemeriksaan leher

7)      Pemeriksaan dada

8)      Pemeriksaan abdomen

 

 

Pemeriksaan Laboratorium

q             Protrombin time memanjang

q             Kadar albumin rendah

q             Peningkatan gamma globulin G.

q             Urobillin feces meningkat (n = 90 – 280 mg/hari).

q             Urobillin urine meninglkat (n = 0,1 – 1,0 erlich u/dl).

q             Kadar bilirubin direk dan indirek meningkat.

q             (Direk n = 0,1 – 0,3 mg/dl. Indirek n = 0,2 – 0,8 mg/dl).

 

     Pemeriksaan penunjang lain :

–          Radiologi

–          Esofagoskopi

–          Ultrasonografi

 

    Penatalaksanaan

Pada pasien sirosis biasanya didasarkan gejala yang ada.Vitamin dan suplemen nutrisi akan meningkatkan proses kesembuhan pada sel- sel hati yang rusak serta memperbaiki status gizi pasien.Asupan protein dan kalori yang adekuat merupakan bagian etensial dalam penanganan sirosis bersama- sama upaya untuk menghindari penggunaan alkohol.Meskipun proses fibrosis pada hati yang sirotik tidak dapat diputar balik, perkembangan kadar ini masih dapat diperhentikan atau diperlambat. (Brunner & Suddart, 2001)

 

   Komplikasi

  1. Edema dan Acites

Ketika liver kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air menumpuk pada kaki( edema) dan abdomen ( acites)

  1. Luka dan perdarahan

Ketika liver lambat atau berhenti memproduksi protein yang dibutuhkan tubuh untuk penggumpalan darah, penderita akan mudah luka dan berdarah.

  1. Penguningan ( Joundice)

Penguningan pada kulit dan mata yang terjadi ketika liver sakit, tidak bisa menyerap bilirubin.

  1. Batu Empedu

Jika sirosis mencegah air empedu mencapai empedu, maka akan timbul batu empedu. (Misnadiarly, 2007)

 

   Diagnosa Keperawatan

  1. Perubahan status nutrisi b/d dengan gastritis, penurunan motilita,gastrointestinal dan anoreksia
  2. Gangguan integritas kulit b/d dengan gangguan status imunologi, edema dan nutrisi yang buruk
  3. Intoleransi aktifitas b/d kelemahan
  4. Resiko tinggi injuri (perdarahan) b/d ketidaknormalan profil

darah dan gangguan absorsi vit K

  1. Gangguan volume cairan lebih dari kebutuhan tubuh b/d

terganggunya mekanisme pengaturan (penurunan plasma protein)

  1. Terbatasnya pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai proses penyakit,

prognosis dan penatalaksanaannya b/d terbatasnya informasi

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
  2. Hypertermi b/d invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar
  3. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi b/d  sifat menular dari agent virus

 

    Intervensi

  1. Perubahan status nutrisi b/d , penurunan motilita,gastrointestinal dan anoreksia

1)      Pantau tanda- tanda vital setiap 4 jam dan hasil pemeriksaan fungsi hepar

Rasional: Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan

2)      Berikan diet tinggi karbohidrat, rendah lemak, rendah protein, rendah natrium bila kadar amonia serum meningkat atau edema dan asites terjadi. Bila masukan makanan kurang dari 30%  konsul dengan ahli diet.

Rasional: Amonia adalah produk metabolisme protein.Natrium dibatasi untuk mengontrol asites dan edema karena sifat kerja osmotic.Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi status nutrisi pasien dan merencanakan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi relative terhadap sakit

3)      Berikan makanan sedikit sebanyak 6 kali sebagai pengganti makan besar 3 kali

Rasional: Makan sedikit dan sering- sering ditoleransi lebih baik dari pada makan besar 3 kali karena terdapat distensi lambung. Mual  dapat dicetuskan oleh distensi lambung.

4)      Intruksi pasien untuk menghindari masukan alkohol

Rasional: Alkohol  adalah penyebab paling umum dari sirosi hepatis

5)      Berikan higiene oral sebelum makan

Rasional: Untuk meningkatkan nafsu makan.

6)      Berikan Antimietik yang diresepkan 30 menit makan bila mual terjadi

Rasional: Makanan ditoleransi lebih baik bila mual tidak ada

7)      Berikan obat- obatan yang diresepkan yang dapat meliputi: diuretik, agen anti diare, evakuan feses, dan sephulac

Rasional: Diuretik membersihkan kelebihan cairan tubuh dan mengontrol asites.Agen anti diare untuk mengontrol diare, sephulac menurunkan kadar ammonia serum dengan menahannya dalam usus dimana ini dikeluarkan.

  1. Gangguan integritas kulit b/d dengan gangguan status imunologi, edema dan nutrisi yang buruk

1)      Intruksikan pasien untuk mandi dengan sabun Hidroalergik ringan ( seperti: Lowilla atau Neutrogena).Berikan losion emolin diatas seluruh permukaan tubuh setelah mandi

Rasional: Kulit terirtasi yang kering lebih rentan untuk rusak.Sabun hipoalergik tidak mengeringkan kulit

2)      Bila tirah baring, implementasikankan tindakan untuk mencegah komplikasi imobilitas

Rasional: Asites dan edema meningkatkan resiko kerusakan kulit

3)      Pertahnkan kuku pendek.

Rasional: Garukan kulit edema kering meningkatkan resiko kerusakan

  1. Intoleransi aktifitas b/d kelemahan

1)      Pantau tanda- tanda vital setiap 8 jam bila status, bila sebaliknya setiap 4jam

Rasional: Untuk mengevaluasi keefektifan terapi

2)      Rencanakan aktifitas- aktifitas untuk memungkinkan periode istirahat

Rasional: Istirahat menurun kebutuhan metabolik dari hepar

3)      Pertahankan posisi semi fowler bila ada asites

Rasional: Untuk mempermudahkan pernapasa dan mengurangi ketidaknyamanan

4)      Berikan oksigen melalui kanula nasal bila dispnea menetap

Rasional: Untuk meningkatkan tegangan oksigen anterial untuk melawan hipoksia

5)      Berikan antipiretik dan antibiotic yang diresepkan

Rasional: Untuk mengatasi demam.Metabolisme meningkatkan pada demam yang menyebabkan penggunaan energi yang semestinya

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pengarapen, Tarigan, (1998). Buku ajar ilmu penyakit dalam, Jilid I, Edisi ketiga : Balai penernit FKUI. Jakarta

Carpenito. L.J (2001). Buku saku diagnosa keperawatan, Edisi 8. EGC. Jakarta

Sylvia A. Prince, (1995). Patofisiologi konsep klinis proses penyakit, Edisi 4, Buku 1. EGC. Jakarta

Doengoes M.E. (2000). Rencana Asuhan keperawatan. EGC. Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s